G.I.M'57

Berbagi Pengetahuan, Pengalaman, Cerita, dll

GAYA HIDUP VEGETARIAN DAN PEMANASAN BUMI


Tahukah Anda kalau gaya hidup vegetarian bisa membantu penangkalan pemanasan global? Maklum 20 persen pancaran gas asam arang berasal dari ternak yang kita makan. Dengan kata lain, kalau tak makan daging, maka kita juga tak menyumbang gas asam arang ke udara, yang membuat bumi makin panas. Sulitkah menjadi vegetarian?

Reporter KBR68H Antonius Eko mengajak menengok gaya hidup baru. Susianto lain dari teman-temannya ketika memilih menu makan siang. Sebagai vegetarian, Susianto hanya makan tumbuh-tumbuhan, tidak makan makhluk hidup, seperti daging, ikan atau olahannya. Susianto yang Ketua Masyarakat Vegetarian Indonesia meluruskan salah kaprah istilah vegetarian. Sering dikira ‘vegetarian’ berasal dari kata ‘vegetables’ atau sayur-sayuran. Padahal sebetulnya ini diambil dari bahasa Latin, ‘vegetus’, berarti ‘hidup sehat dan semangat.’ Jauh dari kata sayur. Susianto sudah vegetarian totok selama 20 tahun. Kata dia, gaya hidup vegetarian sudah dikenal sejak abad kelima sebelum Masehi. Saat itu mereka disebut ‘vitagorian’ alias pengikut Phytagoras, ilmuwan jenius dan ahli matematika, yang ternyata juga vegetarian. Istilah ‘vegetarian’ sendiri baru muncul seribu tahun kemudian, tahun 1800an. Susianto: Jadi pada 1847 kata vegetarian mulai diperkenalkan, saat berdirinya UK Vegetarian Society. Itu adalah organisasi vegetarian modern pertama, di Inggris. Jadi Inggris itu memang pencetusnya, tapi bukan berarti orang vegetarian itu sejak 1847, bukan. Sebelum itu sudah banyak orang vegetarian. Cuma waktu itu belum ada kata vegetarian. Susianto jadi vegetarian karena alasan kesehatan. Pendidikan ilmu kimia dan gizi membuat dia tahu persis bahaya daging. Susianto Di daging banyak kolesterol, banyak lemah jenuh. Sedang di tumbuhan tidak ada kolesterol dan kolesterol ini penyebab utama penyakit jantung. Saya rasa anak kecil juga tahu. Keuntungan kedua di daging tidak ada serat. Serat hanya di tumbuhan. Itu mencegah obesitas, kanker dan juga diabetes. Rata-rata protein hewani bersifat asam dan itu disukai oleh sel kanker. Sedang sayur bersifat basah, tidak disukai sel kanker. Vegetarian sejati mesti lewat tiga tahap. Pertama, lakto ovo, yaitu vegetarian yang masih menyantap susu dan telur. Setelah itu, lakto vegetarian, tidak lagi makan telur, tapi susu jalan terus. Tahap terakir adalah vegetarian yang paling ngelotok yaitu vegan. Hanya tumbuh-tumbuhan. Neli, relawan Masyarakat Vegetarian Indonesia, menjadi vegetarian karena keyakinannya. Setelah itu, baru alasan kesehatan. Neli mengaku trauma menyaksikan hewan disiksa dan disuntik obat-obatan supaya terlihat sehat dan besar. Neli: Itu dan kasih kita lihat hewan itu dibunuh. Dari VCD yang kita lihat itu mereka mengalami penyiksaan, bahkan bukan cuma pada saat dibunuh, pada saat mereka lahir pun mereka sudah disuntik dengan bermacam kimia supaya untuk dibooze pertumbuhannya. Jadi melihat hal makin menguatkan tekad untuk menjadi vegetarian. Kata Neli, awalnya memang sulit. Apalagi, asal Sumatera Selatan, lidahnya sudah terbiasa dengan pempek yang mengandung ikan. Kesulitan serupa dialami Fitrian Ardiansyah, Direktur Program Iklim dan Energi WWF Indonesia. Dua tahun yang lalu, ia mulai mengucapkan selamat tinggal pada daging. Fitrian Adriansyah: Umur saya 34 saat ini. Selama 30 tahun kita makannya sop buntut, soto kambing dan sebagainya. Ada perasaan yang hilang, sensasi itu hilang. Tapi kemudian selama seminggu berikutnya, ketika kita sudah menemukan alternatif pengganti kok lumayan ya. Kita merasa lebih segar, lebih tenang. Badan lebih ringan terutama karena berat badan turun, olah raga kita nggak kehabisan nafas. Selama ini saya fikir saya cukup senang dan sehat, pikiran lebih jernih tidak pusing karena alasan ekonomi. Selain badan sehat, kalau jadi vegetarian kantong juga ikutan sehat. Fitriansyah sudah berhitung cermat soal ini. Uang untuk beli daging jauh lebih banyak ketimbang untuk beli sayuran. Fitrian: Alasan ekonomi, tentunya. Harga daging kemarin lebaran 80 ribu per kilogram. Kemudian ayam juga mahal. Dengan adanya selisih income yang bisa disimpan, sekarang bisa punya kemampuan untuk beli sayur-sayuran yang organik. Pertama lebih sehat kedua membantu petani lokal. Tapi ada saja yang khawatir bahaya racun pestisida di tanaman. Ketua Masyarakat Vegetarian Indonesia Susianto mengatakan, selama sayur dibersihkan dengan air mengalir, tak perlu khawatir pestisida tertinggal. Beda dengan pestisida daging yang tak bisa dihilangkan. Kandungannya 14 kali lebih tinggi dibandingkan pestisida sayuran. Susianto: Peternakan itu kan juga makannya selalu berpestisida. Dan peternak juga tidak akan mencuci untuk hewan ternaknya. Kalau manusia kan tidak sebodoh itu, kalau kita kan bisa cuci. Dan pestisida itu kan bisa larut dalam cair. Apalagi kalau airnya dikasih jeruk nipis atau garam, wah itu lebih larut lagi, lebih gampang lepasnya. Ya memang ada sisa dikit tapi kalau orang mengatakan makan daging bebas pestisida itu salah besar. Tak perlu juga khawatir badan lemas tak bergairah lantaran tak makan protein daging. Kata Susianto, kebutuhan protein bisa diperoleh dari kedelai. Kandungan protein kedelai 34 persen, sementara daging hanya 18 persen. Bukan cuma diri sendiri yang diuntungkan dengan gaya hidup vegetarian, tapi juga bumi. Pada 2006, PBB mengeluarkan laporan tentang peternakan dan lingkungan. Isinya, hampir 20 persen pancaran gas asam arang berasal dari peternakan. Ini melebihi jumlah pancaran gabungan semua kendaraan di dunia. Menurut Prasasto Satwiko, Koordinator Bidang Teknologi Pusat Studi Energi Universitas Atmajaya Yogyakarta yang juga seorang vegetarian, hampir seluruh proses yang berkaitan dengan peternakan bertanggung jawab pada pancaran gas asam arang. Misalnya, menyiapkan pakan ternak, pembukaan hutan untuk peternakan, pengolahan daging di pabrik, pengangkutan daging dari peternakan ke pasar, hingga kotoran hewan ikut menyumbang terjadinya pemanasan global. Prasasto: Bahkan ada yang mengatakan transport di seluruh dunia dijumlah pun masih kalah banyak dibanding sumbangan gas rumah kaca dari industri peternakan yang sampai 15 persen. Kalau semua transport digabung itu hanya 13 persen. Kita tidak hanya bicara CO2nya ya, karena pada industri peternakan selain CO2 juga ada methan NH4 yang disebut 21 kali lebih berpotensi daripada CO2 dan juga dari pipisnya, urine itu ada nitro oksida yang 296 kali lebih jahat dari CO2 Data Masyarakat Vegetarian Indonesia IVS menyebutkan, jumlah ternak di seluruh dunia tiga kali lebih banyak daripada manusia. Bayangkan. Sapi berjumlah 1,5 milyar, domba 1,8 milyar, serta ayam 15 milyar lebih. Kalau ditotal, hampir 20 milyar ekor ternak hidup di seantero bumi. Betapa besar gas asam arang serta gas metan dilepas dari hewan-hewan ini. Peternakan juga dituding penyebab utama kerusakan tanah dan polusi air. Fitrian Ardiansyah, Direktur Program Iklim dan Energi WWF Indonesia mengatakan, saat ini 30 persen lahan di bumi dipakai peternakan. Ditambah lagi pembukaan lahan untuk peternakan, makanya hutan di Brasil ikut rusak. Fitrian Ardiansyah: Di mana ada hubungan yang cukup signifikan antara ekspansi industri peternakan dengan deforestasi yang juga akan berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca karena akibat tekanan lahan industri peternakan yang ada di Brazil misalnya, makin menjarah lahan-lahan yang sebernarnya sangat terlindungi di hutan-hutan Amazon, karena lahan-lahan yang lain sudah dipakai untuk industri biofuel lewat perkebunan tebu. Menggunakan lahan untuk perkebunan, kalau dihitung-hitung, jauh lebih berguna ketimbang mengubahnya jadi peternakan. Susianto, Ketua Masyarakat Vegetarian Indonesia. Susianto: Ada data penelitian yang menyebutkan dalam 1 luas hektar tanah kita bisa menghasilkan 20 ribu kilo kentang, 20 ton. Tapi dalam 1 hektar tanah yang sama hanya menghasilkan 165 kilogram daging sapi.. Coba bagi deh akan keluar angka 120 koma sekian. Artinya apa? Seorang vegetarian lebih hemat pemakaian lahan 120 kali dari seorang pemakan daging. Di Indonesia, kata Direktur WWF Fitrian, kasus perusakan hutan memang belum terlalu parah. Tapi coba cermati kesehatan masyarakat sekitar peternakan. Ada banyak kasus flu burung atau antrax. Sayang masih sedikit upaya membuat industri peternakan lebih ramah lingkungan. Fitrian Ardiansyah dari WWF Indonesia mengatakan, banyak negara lebih fokus menanggulangi pemanasan global dari sisi penghematan listrik dan transportasi massal. Fitirian Ardiansyah: Yang saya lihat adalah pengetahuan sudah ada. Tapi mereka mencantumkan beberapa prioritas. Prioritas utama adalah tadi karena kuantitas CO2nya banyak maka pembangkit listrik coba diubah menjadi lebih terbarukan. Kemudian transportasi juga hybrid car dan sebagainya dan industri peternakan baru beberapa tahun terakhir ini diekspos media. Banyak negara maju enggan mengusik industri pertanian karena industri ini salah satu penggerak ekonomi. Ketua WALHI, Berry Nahdian Forqan. Berry Nahdian Forqan: Saya masih melihat bahwa para pemerintah, baik di negara maju mau pun di negara-negara berkembang, masih mencampuradukkan kepentingan penanganan persoalan lingkungan dalam hal ini perubahan iklim dengan kepentingan kepentingan pertumbuhan ekonomi. Ini yang menjadi perubahan iklim tidak serius ditangani. Kepentingan ekonomi di sini lebih diproritaskan, lebih diutamakan. Mari kita ingat lagi ucapan peraih Nobel Perdamaian 2007, Rajendra Kumar Pancauri, soal dua langkah utama menghemat energi dan mencegah pemanasan global. Tidak makan daging dan bersepeda. Jangan lupa, seorang vegetarian bisa menghemat 1,5 juta ton asam arang CO2, setahunnya. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan langkah mengganti mobil biasa dengan mobil ramah lingkungan, yang menghemat 1 juta ton CO2. Tim Liputan KBR68H melaporkan untuk Radio Nederland Wereldomroep di Hilversum. * MENYELAMATKAN HUTAN TROPIS DI KONPERENSI POZNAN Intro: Konperensi Perubahan Iklim PBB ke 14 yang berlangsung di Poznan merupakan kelanjutan konperensi Bali tahun silam. Tetapi, selain melanjutkan Bali, Konperensi Poznan juga membahas satu hal penting lain, itulah Pengurangan Emisi bagi penggundulan dan penurunan hutan di negara-negara berkembang, disingkat REDD. Apa yang dimaksud dengan konsep REDD ini dan apa peran Indonesia di dalamnya. Berikut penjelasan Agung Wardana, aktivis lingkungan Walhi yang hadir pada Konperensi perubahan iklim di Poznan. Agung Wardana [AW]: Yang diikat untuk menurunkan emisi itu adalah negara-negara maju saja, negara berkembang tidak wajib untuk menurunkan emisinya. Tapi lewat skema REDD ini negara maju berusaha untuk mencari jalan yang baru untuk menurunkan emisinya. Karena mereka tidak memiliki keuntungan yang kuat untuk menurunkan emisinya tersebut. Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: Caranya adalah membeli emisi dari negara-negara yang sedang berkembang gitu kan? AW: Ya, membeli hak emisi dari negara berkembang yang bisa menurunkan emisinya dari sektor kehutanan. Ini semacam CDM, Clean Development Mechanism tapi tapi dia di sektor kehutanan. Tapi ada hal-hal krusial yang lain yang harus kita lihat dalam propoasal REDD ini. REDD ini tidak menjelaskan definisi yang pasti mengenai apa hutan itu sendiri. Definisi hutan sendiri yang merupakan hal yang mendasar kalau kita ingin bicara tentang hutan itu tidak ditetapkan dengan pasti. Ini akan menimbulkan juga penafsiran-penafsir an yang beranekaragam. Misalkan FAO sendiri menafsirkan perkebunan itu merupakan bagian dari hutan juga. Kalau kemudian perkebunan dimasukkan dalam kategori hutan, berapa perkebunan kelapa sawit yang akan bisa mendapatkan dana insentif dari proyek ini. Kan itu sumber masalah. Kemudian belum lagi ada permasalahan di sektor kehutanan Indonesia, saat ini kan sangat kompleks. Ada konflik antara masyarakat adat dengan perusahan perkebunan, perusahan tambang dan juga konflik masyarakat adat dengan pendatang atau konflik masyarakat adat dengan pemerintah. Nah, ini yang harus dibereskan terlebih dahulu jika kita ingin membicarakan skema REDD ini. Pengakuan terhadap masyarakat adat di Indonesia itu sangat lemah sekali. Ketika ada skema REDD ini yang kita takutkan adalah masyarakat adat justru akan menjadi korban dan kehilangan akses untuk memanfaatkan hutan mereka yang selama ini mereka yang telah terbukti menjaga hutan mereka secara lestari selama ratusan tahun, kan seperti itu. RNW: Bagaimana menurut Anda pendirian Indonesia sendiri dalam skema REDD ini? AW: Dalam beberapa kesempatan di Jakarta, memang beberapa delegasi menyatakan bahwa mereka akan membawa pesan bahwa mereka akan menghormati masyarakat adat dan bagaimana masyarakat lokal juga bisa berpartisipasi dalam skema REDD ini. Tapi dalam beberapa hari ini, pleno-pleno yang diadakan, khusus tentang skema RED, saya tidak melihat satupun kata masyarakat adat atau masyarakat lokal yang diungkapkan oleh delegasi Indonesia. Delegasi Indonesia hanya mengungkapkan bahwa mereka sudah siap untuk melaksanakan REDD. Ini kan membuktikan bahwa apa yang diungkapkan di Indonesia itu tidak sama dengan apa yang diungkapkan di pleno UNFCCC ini. Indonesia itu justru menawarkan REDD dalam skema pasar. Ini juga sangat berbahaya sekali. Ketika skema pasar ini gagal itu berarti kita tidak hanya kehilangan uang, kita juga akan kehilangan hutan dan juga celakanya lagi penurunan emisi dari negara-negara industri itu juga tidak akan terjadi karena itu pasar. Perusahan-perusahan negara maju bisa menginvestasi uangnya untuk mendukung skema ini.. Skema ini akan menjadi adil apabila ini dilakukan oleh negara berkembang yang memiliki hutan dan negara maju juga menurunkan emisinya minimal 40% dari emisi tahun 1990. Nah, ini yang juga harus dilakukan. Nah, celakanya hari ini adalah skema energi didorong sedangkan negara maju tidak mau menurunkan energinya dengan alasan bahwa mereka akan mengkontribusikan uang mereka untuk skema ini. Nah, artinya tidak akan ada penurunan emisi di tingkatan global. Yang akan ada jual beli, jual beli emisi itu saja. Nah, ini yang ingin kita kritisi dan ada hal krusial. Yang terakhir adalah skema REDD ini tidak pernah membicarakan akar permasalahan kenapa terjadi deforestasi, kenapa terjadi forest degradation di Indonesia. Nah, ketika kita bicara deforestasi dan forest degradation Indonesia, kita akan bicara bagaimana tingginya permintaan akan biofuel, tingginya permintaan akan kertas, tingginya permintaan akan barang tambang dan segala macam, oil dan gas itu. Dan kemudian itu menjadi peluang bisnis, sehingga hutan harus dikalahkan atas nama bisnis itu. Nah, kebetulan kita ingin melawan deforestasi yang juga harus dilakukan adalah bagaimana menurunkan permintaan dari negara maju ini. Nah, ini kan tidak pernah dibicarakan oleh negara maju. Kita hanya diminta untuk menjaga hutan kita dan mereka memberikan uang bagi kita seolah-olah kita menjadi satpam bagi mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 30, 2009 by in Umum.

Mari Mampir Dimari

Flickr Photos

Twitter Updates

Mittened Hands

Photography

Virtual Diary

"Taking risks means that you are courageous, not weak, even if you fail. At least you tried. At least you learned"

Azamalia

Hanya Kata-Kata

Tuesday Notes

Before all will be gone, i write. So that it will be unforgotten.

Hasan Lukman

Islamic learner enthusiast | environmentalk

FORESTER'S BLOG

JALAN - JALAN DI HUTAN

Alamendah's Blog

Flora, Fauna, dan Alam Indonesia

mada_ perspective

A Document of Life and Passion

%d bloggers like this: