G.I.M'57

Berbagi Pengetahuan, Pengalaman, Cerita, dll

KOMUNIKASI PADA PRIMATA


Komunikasi secara biologis dapat diartikan sebagai suatu aksi atau tindakan dari suatu organisme yang dapat merubah suatu pola tingkah laku pada organisme lain dengan berbagai cara dan bentuk penyesuaian diri yang dilakukan oleh satu atau kedua organisme yang bersangkutan. Bentuk penyesuaian diri yang dilakukan dapat berupa pemberian sinyal, pemberian respon (tanggapan) ataupun keduanya, dimana hal tersebut telah terprogram secara genetik melalui tahapan-tahapan dalam seleksi alam. Pada dasarnya komunikasi adalah suatu bentuk interaksi atau hubungan antara satu organisme dengan organisme yang lain. Dapat disebut tidak terjadi komunikasi apabila suatu aksi hanya berasal dari satu organisme saja tanpa adanya tanggapan atau respon dari organisme yang lain.

Interaksi sosial merupakan aktivitas yang melibatkan interaksi antara dua individu atau lebih. Interaksi sosial juga dapat diartikan sebagai segala bentuk perilaku suatu individu yang bertujuan mempengaruhi individu lain. Hal ini dapat dilakukan dalam bentuk komunikasi. Terdapat beberapa jenis komunikasi pada primate, yaitu secara visual, audiotorial, olfaktori, dan sentuhan.

Sinyal Terputus-putus (Discrete) dan Sinyal Bertingkat (Graded Sinyal terputus-putus (discrete) merupakan suatu jenis sinyal yang sederhana dan mudah dikenali karena hanya mengindikasikan ada atau tidak ada, iya atau tidak, disini atau disana, serta sinonim kata yang lainnya. Bentuk discrete mengkarakterisasi sinyal komunikasi oleh anggota dari grup yang saling mengenali satu sama lain dan tetap saling mengontak. Sinyal terputus-putus berkembang menjadi terputus melalui proses evolusi. Sinyal disrete mempunyai intensitas dan durasi dari tingkah laku yang kurang bervariasi, sehingga bagaimanapun kuat atau lemahnya perlakuan yang diberikan untuk memprovokasi hewan tersebut, tingkah laku atau balasan yang diberikan biasanya selalu sama. Sinyal bertingkat (graded) merupakan sinyal yang berkembang secara tertentu dan mengalami peningkatan variasi yang didukung oleh besarnya aggresivitas dan motivasi dari suatu hewan akan tindakan yang akan dilakukan. Dimana pemberian sinyal dari sinyal bertingkat ini lebih besar dan panjang.

Metakommunikasi
Metakomunikasi merupakan bentuk tindakan lain sebagai bagian dari komunikasi, dimana metakomunikasi ini merupakan salah satu bentuk khas yang dihasilkan dari berbagai sinyal gabungan (komposit). Suatu hewan terpacu untuk melakukan metakomunikasi setelah dipengaruhi oleh jenis sinyal yang kategorinya berbeda daripada biasanya yang dikirim secara berulang-ulang ataupun terjadi dengan cepat. Altmann (1962) yang pertama kali menerapkan konsep ini kepada mahluk hidup non-manusia seperti primata, mengenali suatu keadaan dimana metakomunikasi dapat terjadi. Keadaan yang pertama adalah sinyal status. Contohnya adalah status sinyal pada primata, dimana jantan dominan (alpha male) mempunyai sikap kepala tegap, ekor berdiri, serta testikel mengarah ke bawah, sedangkan pada jantan tingkat bawah mempunyai sikap kepala dan ekor yang menunduk ke bawah serta testikel yang menghadap keatas. Status yang sejenis dapat ditemukan pada macaca dan babons. Hipotesis ini menyatakan bahwa hewan melakukan komunikasi mengenai kedudukan status mereka dan kemungkinan dia akan menyerang atau mundur kalau bertemu.

Bentuk kedua dari metakomunikasi primata adalah ajakan bermain. Cara bermain dari monyet hampir sama dengan kebanyakan mamalia lainnya, mereka saling mencurahkan kasih sayang, saling mengejar dan mengejek. Cara mengajaknya terdiri dari melompat dan saling menatap dengan teman bermain melalui kedua atau samping dari lengannya dengan menaikan dan menurunkan kepala mereka. Pada permainan berikutnya, mereka bergulat dan saling menggigit satu dan lainnya dengan semangat. Terkadang mereka dapat terluka dengan mudah tetapi itu jarang mereka lakukan.

Interaksi sosial pada Macaca fascicularis

Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) merupakan salah satu jenis yang banyak melakukan interaksi sosial yang melibatkan individu-individu anggota kelompok sosial. Tingkatan umur dan jenis kelamin juga menentukan perilaku sosial yang dilakukan oleh masing-masing individu.

Monyet ekor panjang hidup dalam grup dengan system multimale atau multifemale yang terdiri dari 6–58 individu. Sistem hierarki di dalam grup berdasarkan sistem metrilineal.

 

Interaksi sosial pada Gorilla gorilla

Sekitar 45% aktivitas gorilla dihabiskan untuk makan, setelah itu gorilla akan mencari tempat peristirahatan yang umumnya dilakukan diatas pohon. Pada saat mencari pasangan kawin, gorilla jantan melakukan pencarian secara soliter. Gorilla betina umumnya meninggalkan kelompok kelahirannya untuk memperbesar peluang mencari pasangan kawin. Proses kepergiannya dilakukan secara transfer betina, yaitu perjalanan bersama kelompok kelahirannya di sepanjang hutan hingga menemukan kelompok jantan baru atau jantan soliter. Proses display akan berlangsung hingga akhirnya kelompok betina mengikuti kelompok jantan.

Kelompok Gorilla memiliki system hierarki. Seiring waktu, gorilla jantan akan tumbuh dan memiliki tubuh yang lebih besar dari pada betina, sehingga menjadi lebih dominan dari pada gorilla betina. Setelah mendominasi betina, maka system hierarki sesame jantan ditentukan oleh usia, ukuran tubuh, kekuatan, dan kemampuan berkelahi. Jantan dengan peringkat teratas disebut jantan dominan atau silverback (jantan dominan dalam suatu kelompok). Jantan dominan biasanya adalah jantan dewasa dengan usia diatas 12 tahun. Silverback menentukan suatu kelompok baik arah pergerakan dan aktivitas agresi, menegahi konflik, memperkuat hubngan antar kelompok, serta bertanggung jawab terhadap keamanan dan keselamatan kelompok Peringkat lainnya secara berturut-turut adalah: jantan subordinat dengan usia 8 – 12½ tahun (blackback), jantan dengan usia 6-8 tahun (sub-adult), jantan dengan usia 3-6 tahun (juvenile), 0-3 tahun infant.

 

Interaksi Sosial pada Simpanse

Mereka memiliki hubungan relasi sosial yang kuat, maka senang hidup berkelompok sesuai dengan kekerabatan. Ini mirip dengan sifat manusia. Bedanya, dalam hidup berkelompok simpanse menganut azas egaliter, di mana tidak ada pemimpin atau hierarki kekuasaan.

 

Interaksi Sosial Pada Macaca mullata

Perkawinan tidak terbatas pada musim-musim tertentu. Kehamilan berlangsung antara 135-194 hari. Monyet betina menjadi dewasa pada usia tiga tahun, sementara jantan pada usia empat tahun. Jangka hidup monyet rhesus di penangkaran kira-kira 15-20 tahun untuk jantan dan 20-25 tahun untuk betina. Monyet-monyet ini jarang hidup lebih dari 15 tahun di alam bebas.

Gerombolan monyet rhesus terdiri atas campuran jantan dan betina. Gerombolan ini dapat terdiri hingga 180 ekor monyet, tetapi rata-rata jumlahnya 20 ekor. Monyet betina dapat lebih banyak jumlahnya dibandingkan monyet jantan dengan rasio 4:1. Hierarki sosialnya juga bersifat matriarkal, peringkatnya tergantung pada betina yang memimpin. Pemeliharaan atas monyet-monyet muda dan tugas-tugas pengawasan wilayah dibagi di antara rombongan. Sementara monyet-monyet betina biasanya hidup damai, jantannya biasanya sering ribut di antara mereka sendiri.

 

Interaksi Sosial Presbytis comata

Surili memiliki kelompok relatif kecil, bila dibandingkan denganjenis lutung lainnya, jumlah individu dalam kelompok antara 7-12 ekor. Sistem perkwainan multimale, tetapi monogamy, dengan satu ekor jantan dalam kelompok

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonym. 2010. Komunikasi pada Hewan. Diakses pada tanggal 25 September 2010. http://biologi-sains.blogspot.com/2010/04/komunikasi-pada-hewan.htm

Azhari. 2009. Bonobo dan Orang Utan (Hewan Pintar). Diakses pada tanggal 25 September 2010. http://id.netlog.com/drazhari/blog/blogid=6896

Sari, Desita, Dianti. 2009. Profil Darah Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) yang diberi pakan berenergi tinggi pada periode obesitas empat bulan kedua. Bogor. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, IPB.

Supriatna, Jatna dan Wahyono, Hendras, Edy. 2000. Pandungan Lapangan Primata Indonesia.  Diakses pada tanggal 25 September 2010. http://books.google.co.id/books?id=uptshOgJKfoC&pg=PA151&lpg=PA151&dq=presbytis+comata&source=bl&ots=Ng4PdFJR1B&sig=OSZJBROaQ9K7NVl6ceQU2dB39XM&hl=id&ei=gdqfTIfBCY6gvgPv7ez_DA&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=8&ved=0CDEQ6AEwBw#v=onepage&q=presbytis%20comata&f=false

Wilson, E. O. 1975. Sociobiology – The New Synthesis. USA: Harvard University Press.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 12, 2011 by in Fauna and tagged , , , , .

Mari Mampir Dimari

Flickr Photos

Twitter Updates

Mittened Hands

Photography

Virtual Diary

"Taking risks means that you are courageous, not weak, even if you fail. At least you tried. At least you learned"

Azamalia

Hanya Kata-Kata

Tuesday Notes

Before all will be gone, i write. So that it will be unforgotten.

Hasan Lukman

Islamic learner enthusiast | environmentalk

FORESTER'S BLOG

JALAN - JALAN DI HUTAN

Alamendah's Blog

Flora, Fauna, dan Alam Indonesia

mada_ perspective

A Document of Life and Passion

%d bloggers like this: