G.I.M'57

Berbagi Pengetahuan, Pengalaman, Cerita, dll

MENGOLEKSI SERANGGA


Serangga adalah makhluk berdarah dingin, atau menyesuaikan dengan suhu lingkungan. Apabila suhu lingkungan menurun, maka suhu tubuh mereka pun menurun dan proses fisiologis tubuhnya menjadi lamban. Beberapa serangga dapat hidup dan bertahan pada suhu yang sangat ekstrim (baik suhu rendah maupun tinggi), hal ini dikarenakan serangga memiliki etilenaglikol di dalam jaringan tubuhnya.

Perkembangan dan siklus hidup serangga di alam mengalami tingkat-tingkat dari yang sederhana sampai kompleks. Siklus hidup serangga dimulai dari telur, berikutnya telur menetas menjadi nimfa, dan nimfa inilah yang kemudian akan berkembang menjadi imago atau dewasa.

Serangga sangat menarik untuk diamati dan dipelajari, karena dalam dunia ilmu pengetahuan, dari sekian banyak jenis hewan yang ada dipermukaan bumi, ternyata sekitar ¾ bagiannya adalah serangga, sehingga tidak jarang banyak yang digunakan atau ditangkap sebagai koleksi.

Mengoleksi serangga dilakukan untuk berbagai keperluan penelitian, seperti identifikasi, mempelajari struktur morfologi dan mempelajari struktur habitat serta keperluan penelitian lain. Pengetahuan mengenai serangga akan bertambah dengan mengoleksi serangga.

Perlengkapan dan metode mengoleksi serangga

Pada dasarnya metode mengkoleksi terbagi menjadi dua katagori. Katagori Petama adalah pengkoleksi yang aktif mencari serangga di lapangan dengan menggunakan peralatan berupa insect net, aspirator, beating sheet dan perlengkapan lainnya yang dibutuhkan di lapangan. Sedangkan katagori kedua adalah kolektor pasif. Kolektor pasif menggunakan perangkap dan beberapa alat yang digunakan seperti katagori kolektor pertama.

Prosedur pembuatan koleksi serangga.

Serangga di tangkap dengan menggunakan cara-cara tertentu, bisa langsung menggunakan insect net atau dengan menggunakan metode lainnya yang dapat menangkap tanpa merusak morfolgi serangga yang kita inginkan. Kemudian dilanjutkan ke tahap selanjutnya, yaitu pembersihan, pinning, pengeringan, pelabelan, baru kemudian specimen atau awetan dapat disimpan atau dijadikan pajangan.

Pembersihan

Serangga yang telah ditangkap kemudian dibersihkan, cara yang paling mudah untuk menghilangkan material yang menempel pada tubuh serangga adalah dengan menaruhkan spesimen dalam alkohol atau dalam air dimana sedikit deterjen telah ditambahkan. Bila material yang dihilangkan berlemak, cairan pembersih dapat dipakai, Pembersih ultrasonic dapat membersihkan spesimen secara cepat dan menyeluruh. (Borror, 1997)

Pinning

 

Sumber gambar: http://www.uky.edu/Ag/Entomology/ythfacts/4h/unit1/pinins.htm

Pinning adalah cara yang terbaik untuk mengawetkan serangga bertubuh keras. Letak pin yang akan ditusukan disesuaikan dengan jenis serangganya. Pada Coleoptera ditusuk pada elytron kanan. Hemiptera dan Homoptera ditusuk melalui scuttelum. Ordo lain ditusuk melalui mesothorax. Spesimen yang terlalu kecil dan rapuh untuk dilakukan pinning, ditempatkan pada micropins atau cardboard pins. Jika point digunakan, serangga disentuhkan oleh point dengan kutex atau lem yang sangat sedikit dan diposisikan pada pin serangga dengan kepala menghadap depan. Yang disebut point adalah lembaran-lembaran segitiga memanjang dengan panjan 8-10 mm dan lebar 3-4 mm. Micropin sangat pendek, harus ditusukkan pada serangga di bagian ventral. Pin sebaiknya tidak ditusukan melalui dorsum. Micropin disambungkan dengan pin serangga dengan gabus.

Untuk hasil terbaik, kupu-kupu dan ngengat sayapnya dibentangkan. Pertama tusuk serangga melalui mesothorax dan tancapkan pada papan. Pindahkan sayap bagian depan, sehingga batas belakangnya membentuk garis paralel dengan tubuhnya. Tahan posisi sayap sementara dengan meletakan pin. Hal serupa dilakukan pada sayap belakangnya, kemudian tempelkan kertas melintasi sayapnya dan beri pin pada kertas & garis luar sayapnya (pin tidak boleh menusuk sayapnya). Pin-pin tersebut dapat dicabut kembali setelah 3-5 hari ditusukkan. (Elzinga, 1997)

 

Mengeringkan Spesimen

Spesimen yang kecil akan sangat cepat kering di udara terbuka, begitu halnya dengan serangga berukuran besar, tetapi tidak dianjurkan untuk meninggalkan mereka terbuka dalam jangka waktu yang lama karena kemungkinan kerusakan oleh dermestid, semut dan hama lainnya. Sebuah ruangan dengan satu atau lebih bola lampu akan mempercepat pengeringan. (Borror, 1997)

Pelabelan

Sumber: http://extension.entm.purdue.edu/401Book/images/collect/fig23.jpg

Semua spesimen yang ditemukan harus diberi label mengenai data waktu dan lokasi penangkapan. Data sebaiknya ditulis seperti ini 10.Aug.1977m 10.VIII>1977, atau VIII.10.1977.Label ditempatkan ditempatkan pada pin serangga. Nama kolektor ditempatkan pada label kedua di bawah label mengenai waktu dan lokasi ditemukan.

Label untuk spesimen yang diawetkan di dalam cairan harus ditulis di atas kertas kasar berkualitas bagus dengan tinta India atau tinta tahan air. Jangan pernah menggunakan ballpoint karena tinta akan larut jika bercampur dengan alkohol. (Elzinga, 1997)

 

Pemajangan dan Penyimpanan

Koleksi menjadi lebih berarti ketika spesimen tersebut dapat dipelajari dan dipajang. Museum dan banyak koleksi pribadi biasanya ditemaptkan di semacam lemari kayu atau besi yang dilapisi kaca. Tiap-tiap laci memiliki suatu baki yang memudahkan spesimen yang telah dikoleksi untuk dimasukan dan dikeluarkan sebanyak yang diperlukan. Tiap baki terdiri dari 1 species dan disusun secara alfabet berdasarkan spesies dalam suatu genus, genus dalam suatu famili dan begitu seterusnaya. Meskipun laci ditutup dengan kuat, serangga hama berukuran kecil dapat masuk dan merusak koleksi.. Maka dari itu pengasapan dan repellent perlu digunakan, selain itu pemeriksaan secara rutin mengenai kerusakan koleksi (sisa serbuk di bawah spesimen yang mengindikasikan spesies tersebut dimakan oleh serangga hama). Kerusakan akan sedikit terjadi apabia ditempatkan pada ruangan bertemperatur rendah, dan sebelumnya dilakukan pengasapan sebelum disimpan.

Pustaka

Borror, D.J., C.A. Triplehorn dan N.F. Johnson. 1997. Pengenalan Pelajaran Serangga. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Elzinga, R. J.Fundamentals of Entomology Fourth Edition  . 1997. Prentice Hall : New Jersey

Jumar. 2000. Entomologi pertanian. Jakarta: Rineka

4 comments on “MENGOLEKSI SERANGGA

  1. udin
    May 18, 2013

    sudah ada belum yg meneliti tentang serangga samber lilin. . ?

    Like

    • Biolog
      October 7, 2013

      serangga samber lilin tu jenisnya kaya gimana?? nampaknya dikampus saya dulu, belum ada yang neiliti.

      Like

  2. Danang
    December 13, 2013

    Saya punya samber lilin.. Makananya apa yha?

    Like

    • Biolog
      January 7, 2014

      Umumnya sih tumbuh2an, kalau spesifiknya saya ngga tau.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 12, 2011 by in Fauna and tagged , , , , .

Mari Mampir Dimari

Flickr Photos

Twitter Updates

Mittened Hands

Photography

Virtual Diary

"Taking risks means that you are courageous, not weak, even if you fail. At least you tried. At least you learned"

Azamalia

Hanya Kata-Kata

Tuesday Notes

Before all will be gone, i write. So that it will be unforgotten.

Hasan Lukman

Islamic learner enthusiast | environmentalk

FORESTER'S BLOG

JALAN - JALAN DI HUTAN

Alamendah's Blog

Flora, Fauna, dan Alam Indonesia

mada_ perspective

A Document of Life and Passion

%d bloggers like this: