G.I.M'57

Berbagi Pengetahuan, Pengalaman, Cerita, dll

ANTARA TRANSPORTASI UMUM DAN PRIBADI


Hohohoho… udah lama ni blog di tinggalin, lebih dari sebulan ga nge-post. Oke meneruskan tema tulisan yang lalu tentang transportasi umum. Kalau tulisan yang lalu kita liat dari sisi “kita” sebagai penumpang, sekarang mari kita sedikit “ngerasain” perasaan yang bawa angkot a.k.a sopir angkutan umum (supir angkot_red). Hehe soalnya ga imbang kalo kita ngungkapin gimana keselnya “ngetem” ama angkot tapi kita juga kurang ngebahas dari sisi si angkot kaya gimana rasanya.

Hmmm… kenapa banyak angkot yang “ngetem” itu juga salah satunya karena makin sedikitnya si penumpang, lantaran para penumpang yang tadinya langganan angkot sekarang beralih ke kendaraan pribadi, entah itu motor ataupun mobil (bener ga tuh??). karena nampaknya saat ini untuk mendapatkan kendaraan pribadi baik motor maupun mobil sudah sangat mudah. Alhasil banyak juga angkutan umum yang terlihat hanya terdapat beberapa penumpang bahkan kosong tanpa penumpang.

clip_image002

Selain karena kemudahan untuk mendapatkan kendaraan pribadi, kendaraan pribadi juga dianggap paling ampuh untuk “ngejar” waktu saat buru-buru dibandingkan harus nungguin angkot yang kadang ga jelas juga kapan dapetnya. Karena peralihan inilah makanya kalo kita bandingkan nampaknya lebih banyak kendaraan pribadi ketimbang angkutan umum di jalanan.

 

clip_image004

Kembali ke sisi supir angkot, selain para penumpang yang beralih ke kendaraan pribadi, mereka juga dikejar target setoran, nah setoran ini juga yang cukup membebani bagi para supir angkot, karena uang untuk keluarga mereka juga dipotong untuk mencukupi jumlah setoran yang dibebankan kepada para supir.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, kepada siapa setoran tersebut diberikan? Setoran ini diberikan kepada pemilik angkutan umum, dan juga kadang ada retribusi yang dibayarkan kepada dinas perhubungan pada saat angkutan umum kembali ke terminal, (nah kalo pungli atau pungutan liar lain cerita).

Pernyataan yang mungkin muncul dari penumpang (yang paling ketus) adalah “suruh siapa jadi supir angkutan umum” nah kalo pernyataan kaya gini jawabannya bisa macem-macem, dari yang jawaban ringan sampe ke jawaban kompleks. Jawaban ringan diantaranya “ga ada lapangan pekerjaan”, “dapet dari kenalan”, “keahliannya Cuma bisa nyupir” atau malah dibalikin tuh pernyataan jadi “kalo ga jadi supir angkot ntar yang ngangkut anda siapa?” (nah lo). Salah satu jawaban kompleksnya adalah “soalnya pemerintah kurang menjamin lapangan pekerjaan, kurang menjamin pendidikan, kurang menjamin kesejahteraan rakyat yah saya akhirnya milih jadi supir angkot, dari pada saya nyuri” (waduh berat ni yang ini).

Nah, Dari dua hal tadi, “beralihnya penumpang angkutan umum ke kendaraan pribadi” dan “kejar setoran”, bisa kita bayangin juga ternyata cukup berat untuk para supir angkot memenuhi kebutuhan hidupnya. Yah memang setiap jalan yang kita ambil, jadi apapun kita pasti punya resiko dan halang rintangnya masing-masing, karena itu lah salah satu warna hidup.

Mungkin sedikit penjelasan tadi bisa menjadikan anda-anda para penumpang angkutan umum untuk lebih bisa bersabar dan memaklumi kenapa sampe segitunya si angkot “ngetem”. Meskipun saya sendiri tidak memungkiri kekesalan karena lamanya ngetem saat saya di buru waktu, tapi mau gimana lagi angkutan/transportasi umum juga salah satu kendaraan saya.

Akhirnya pilihan ada di masing-masing individu, kalau ingin cepat dan mungkin menghemat, bisa saja memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi, tapi masalahnya kemudian yang muncul adalah semakin meningkat kebutuhan akan bbm, meningkatnya emisi CO2, semakin bertambahnya volume kendaraan yang kurang seimbang dengan lahan parkir ataupun volume jalanan, dan lain-lain masalah, atau memilih tetap menggunakan angkutan/transportasi umum yang mungkin lebih lama, kurangnya rasa aman karena diikuti kekhawatiran “supir nakal” atau kejahatan lain yang mungkin terjadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 1, 2012 by in Berbagi Cerita, Umum.

Mari Mampir Dimari

Flickr Photos

Twitter Updates

Mittened Hands

Photography

Virtual Diary

"Taking risks means that you are courageous, not weak, even if you fail. At least you tried. At least you learned"

Azamalia

Hanya Kata-Kata

Tuesday Notes

Before all will be gone, i write. So that it will be unforgotten.

Hasan Lukman

Islamic learner enthusiast | environmentalk

FORESTER'S BLOG

JALAN - JALAN DI HUTAN

Alamendah's Blog

Flora, Fauna, dan Alam Indonesia

mada_ perspective

A Document of Life and Passion

%d bloggers like this: