G.I.M'57

Berbagi Pengetahuan, Pengalaman, Cerita, dll

FOLK TAXONOMIES


Sistem klasifikasi adalah salah satu alat dalam memudahkan manusia untuk mengelompokan, mempertelakan dan menamai makhluk hidup baik flora maupun fauna, dalam ilmu ilmiah dikenal dengan instilah taksonomi biologi. Selain dikenal taksonomi biologi, dikenal pula taksonomi rakyat (Folk Taxonomies), yaitu suatu sistem penamaan yang menggunakan nama daerah atau nama lokal tergantung bahasa yang di gunakan dalam masyarakat (Iskandar, 2012). Pada dasarnya penduduk atau masyarakat adat memiliki cara atau pengetahuan tersendiri dalam mengenal jenis makhluk hidup atau bahkan telah lebih dahulu digunakan dibandingkan sistem klasifikasi biologi yang kita pakai saat ini, baik sistem kalsifikasi hewan maupun tumbuhan. Hal ini menjadi indikator penting bagi keanekaragaman populasi yang ada di dunia, keanekaragaman ini juga menunjukkan adanya kekayaan atau keanekaragaman dari segi bahasa (Escalada, dkk, 2011).

Masyarakat adat atau masyarakat tradisional menentukan sistem klasifikasi hewan maupun tumbuhan yang tersusun secara hierarki berdasarkan apa yang mereka lihat. Sistem klasifikasi menurut masyarakat adat atau taksonomi rakyat (folk taxonomies) memiliki tingkatan hierarki yang menyerupai sistem klasifikasi biologi secara formal seperti kerajaan, filum, kelas, bangsa, keluarga, genus, dan spesies (Berlin 1992, dalam Escalada, dkk, 2011). Taksa dari karakteristik kategori etnobiologi yang sama, dianggap tidak tetap, terdapat pada level taksonomi sama dalam tiap struktur taksonomi tertentu.

· Kategori unique beginner setara dengan takson teratas pada klasifikasi Linnaeus yaitu kingdom, dan pada klasifikasi masyarakat terdapat pada tingkat (level) nol, kategori ini tidak diberi nama oleh penduduk karena hal tersebut umum, seperti hewan dan tumbuhan (Iskandar, 2012).

· Bentuk kehidupan (life-form) terdapat pada tingkat 1, merupakan yang membedakan makhluk hidup berdasarkan bentuk dan karakteristik morfologinya, seperti burung, pohon, tanaman merambat, semak, ular, ikan, dan lainnya.

· Istilah umum (generic) terdapat pada tingkat 2, yaitu tingkatan yang paling dasar yang kadang dalam sistem klasifikasi menuurut masyarakat adat (Folk classification) tidak melulu sesuai dengan sistem klasifikasi Linnaeus terkadang ia masuk ke dalam genus, spesies atau bahkan famili, contohnya, “anjing” merupakan golongan atau genus dalam sistem klasifikasi kerakyatan, sedangkan dalam sistem klasifikasi Linnaeus adalah spesies.

· Istilah khusus (specific) terdapat pada tingkat 3, biasanya dibedakan dengan jenis lainnya oleh beberapa karakteristik yang dapat teramati. Dalam beberapa bahasa seperti spanyol, Indonesia, dan Malaysia, nama genus (marga) menjadi yang pertama seperti dalam taksonomi Linnaeus (Escalada, dkk, 2011).

Lebih khusus lagi tingkat atau level klasifikasi dapat mencapai tingkat varietas (varietal) hingga sub-varetas. Hubungan kategori taksonomi biologi etnobiologi yang diusulkan dan berbagai level taksonomi tersebut pada tiap struktur taksonomi disajikan pada gambar 2.2 (Iskandar, 2012)

image

Gambar 2.2 Diagram skematik penyusunan hirarki dari kategori taksonomi masyarakat, UB=Unique Beginner, LF=Life Form, G=Generic, S=Specific, V=Varietal (adaptasi dari Berlin dkk, 1973; dalam Iskandar, 2012)

Pengetahuan tersebut didapat berdasarkan interaksi penduduk suatu masyarakat adat dengan alam sekitarnya. Apa yang masyarakat lihat berdasarkan interaksinya terhadap alam sekitar menjadi sebuah pengetahuan tersendiri bagi mereka, dan timbul berbagai istilah-istilah yang berbeda pada masing-masing daerah untuk menyebut benda-benda yang mereka temukan sesuai dengan bahasa dan istilah yang mereka mengerti.

Melalui interaksi mereka terhadap alam kemudian berkembang suatu paham atau nilai yang mereka kembangkan dalam sistem sosial dalam kehidupan mereka, yang meyakini bahwa setiap kehidupan dan makhluk hidup mempunyai nilai dan berharga pada dirinya sendiri, hal ini yang disebut sebagai paham “biosentrisme”. Lebih luas lagi mereka meyakini bahwa setiap makhluk hidup dan segala sesuatu yang ada di alam memiliki keterkaitan satu sama lain atau dalam istilah lain dikenal sebagai “ekosentrisme”. Oleh karena itu masyarakat adat merasa memiliki tanggungjawab moral terhadap apa yang ada di alam sekitar mereka, baik terhadap lingkungan biotik maupun abiotik (Keraf, 2002)

Referensi

Escalada, M. & Heong, K.L. 2011. Ethnoscience Techniques. http://ricehoppers.net/wp-content/uploads/2011/07/Tools-Ethnoscience-techniques.pdf.

Iskandar, J. 2012. Etnobiologi dan Pembangunan Berkelanjutan. Bandung. AIPI, LPPM KPK Universitas Padjadjaran.

Keraf, S. A. 2002. Etika Lingkungan. Cetakan I. Jakarta. Penerbit Buku Kompas.

Tidemann, S.,& Gosler, A. 2010. Ethno-ornithology. London. Earthscan publisher.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 31, 2014 by in Folk taxonomies, Local knowledge, Umum and tagged , , , , , , , .

Mari Mampir Dimari

Flickr Photos

Twitter Updates

Mittened Hands

Photography

Virtual Diary

"Taking risks means that you are courageous, not weak, even if you fail. At least you tried. At least you learned"

Azamalia

Hanya Kata-Kata

Tuesday Notes

Before all will be gone, i write. So that it will be unforgotten.

Hasan Lukman

Islamic learner enthusiast | environmentalk

FORESTER'S BLOG

JALAN - JALAN DI HUTAN

Alamendah's Blog

Flora, Fauna, dan Alam Indonesia

mada_ perspective

A Document of Life and Passion

%d bloggers like this: