G.I.M'57

Berbagi Pengetahuan, Pengalaman, Cerita, dll

DAMPAK PENCEMARAN PEWARNA TEKSTIL JENIS AZO TERHADAP BIOTA AIR DAN MEKANISME KEJADIANNYA SERTA DAMPAK PADA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN


Limbah menjadi suatu permasalahan lingkungan yang semakin hari bertambah, baik dari segi volume maupun jenisnya seiring perkembangan teknologi dan zaman. Salah satu yang menjadi permasalahan lingkungan adalah adanya pencemaran oleh bahan pewarna dari sektor industri tekstil yang membuang limbah dalam volume besar ke dalam ekosistem perairan setelah dilakukannya proses pewarnaan. Pewarna yang lazim digunakan dalam industri tekstil, kulit, kosmetik, pewarna makanan, dan kertas adalah pewarna jenis azo (Zolinger et.al 1987 dalam m. sudha et.al. 2014).

Pewarna azo merupakan pewarna utama yang digunakan dalam industri tekstil dan tergolong limbah yang sulit terdegradasi, meski pewarna azo dapat bersifat nontoksik pada kadar rendah bagi tubuh manusia, namun pada kadar atau jenis azo tertentu dapat bersifat toksik dan karsinogenik (Dewi, S,R & Lestari, S.2010). Setidaknya, terdapat kurang lebih 3000 jenis pewarna azo yang digunakan dalam kegiatan industri, baik pada tekstil, kulit, kosmetik, makanan dan kertas. Dalam Chequer et.al (2011) pewarna azo adalah pewarna sintesis dari pasangan amine yang terdeazotisasi menjadi senyawa organik (amine atau fenol) yang memiliki satu atau lebih gugus azo -N=N- yang berikatan dengan gugus cincin aromatik, dan dapat terlarut dalam air.

Zat warna golongan azo merupakan golongan zat warna yang memiliki kromofor –N=N, yang merupakan senyawa kimia yang memberikan warna, bukan sebagai zat warna sehingga bahan yang terkena pewarna ini akan bersifat sementara. Oleh karena itu, pada industri tekstil, dalam pewarna azo juga terdapat aukrosom atau radikal yang mengikat kromofor sehingga warna akan terikat pada bahan. Ikatan antara kromofor dan aukrosom yang kuat menyebabkan zat warna azo tidak dapat hilang dari perairan (Dewi, S.R, & Lestari S. 2010.). pewarna azo digunakan hingga 80% dalam proses pewarnaan tekstil, dan diperkirakan oleh Baban (2013) dalam m. sudha. et.al (2014), bahwa 10-15% limbah pewarna azo masuk ke dalam sungai ketika proses pewarnaan berlangsung.

Limbah pewarna azo yang dibuang ke dalam sungai atau ekosistem perairan mampu mempengaruhi transparansi air, yang artinya mempengaruhi penetrasi sinar dari matahari terhadap sungai, serta bersifat toksik, dan mutagenik terhadap organisme atau biota air. Tulisan ini lebih lanjut akan membahas mengenai dampak pewarna azo terhadap biota air serta hubungannya terhadap pembangunan berkelanjutan.

 

Pewarna Azo terhadap Biota Air

Pewarna azo yang memiliki sifat mudah terlarut dalam air, ketika dibuang ke dalam ekosistem perairan akan tercampur dalam perairan, terakumulasi dan mampu memasuki tubuh biota air sehingga terjadi bioakumulasi. Secara fisik, pewarna azo yang masuk ke dalam sungai membuat air sungai menjadi berwarna dan menghalangi cahaya yang masuk ke dalam badan air, sehingga berpegaruh terhadap proses fotosintesis fitoplankton atau tumbuhan air yang kemudian akan mempengaruhi pula zooplankton dan organisme air lainnya. Secara kimia, mampu mengurangi kadar oksigen yang ada dalam perairan yang tercemar dan dapat mengakibatkan kematian terahadap biota air. Selain itu, pada dasar perairan, zat warna azo yang dirombak oleh mikroorganisme secara anaerobik dapat menghasilkan senyawa amina aromatik yang tingkat toksisitasnya kemungkinan menjadi lebih berbahaya dibandingkan dengan zat warna azo itu sendiri (Fitriana, A & Kuswytasari. 2013). Salah satu contoh senyawa yang terbentuk dalam proses anaerobik yaitu kloroanilin, yang dapat mengganggu kesehatan manusia karena diduga dapat berpengaruh terhadap organ pernapasan, urogenital, dan gangguan saraf (Suhendra, E.dkk. 2013)

Nirmalarani et.al (1988) dalam M.Sudha. et.al (2014) menyebutkan bahwa pewarna azo mampu mengurangi efisiensi germinasi benih dan pertumbuhan tumbuhan. Dalam konsentrasi yang lebih tinggi mampu menghambat pertumbuhan tunas dan akar. Dampak yang terjadi pada hewan, dalam Kucerova et.al., (1987); Collier at.al. (1993) dalam Chequer, D.M.F. et al (2014) menyebutkan bahwa pewarna azo mampu mempengaruhi kegagalan reproduksi dan dapat menyebabkan aberasi kromosom. Dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Al-Sabti (2000) dalam Chequer, D.M.F. et al (2014) yang hasilnya menunjukkan bahwa pewarna azo memiliki aktivitas klastogenik, sebuah potensi faktor resiko permasalahan penyakit dalam perkembangan gen, teratogenik atau karsinogenik terhadap populasi ikan.

Bae dan Freeman (2007) dalam Chequer, D.M.F. et al (2014) telah mendemonstrasikan toksisitas biologis pewarna azo terhadap Daphnia sp. Dengan menggunakan pewarna azo jenis Direct Blue 218, 48-h LC50 diantara 1 hingga 10 mg/l, terbukti sangat toksik terhadap Daphnia sp. Pewarna azo kebanyakan tidak mudah terdegradasi atau bahkan tidak terdegradasi dengan menggunakan treatmen konvensional. Ada pun efek mutagenik, karsinogenik dan toksik pewarna azo bisa terjadi karena efek langsung dari senyawa penyusun azo, atau karena proses biotransformasi reduktif ikatan azo yang membentuk adanya radikal bebas dan derivat aryl amine. Efek mutagenik pewarna azo dapat menyebabkan aberasi terhadap kromosom, aberasi kromosom merupakan indikator penting terhadap kerusakan DNA dan ketidakstabilan genom, dan secara umum aberasi kromosom adalah gabungan perubahan yang terjadi pada kriotipe normal secara keseluruhan (Alatas, Z.  2008)

Bagaimana Reaksi Pewarna Azo dalam Tubuh Organisme

Pewarna Azo bekerja atau bereaksi layaknya Xenobiotik dan bersifat toksik, dan dapat terakumulasi melalui rantai makanan. Ketika, pewarna azo masuk ke dalam tubuh organisme melalui absorpsi, ia dapat bereaksi terhadap metabolisme tubuh suatu organisme atau bahkan zat tersebut bisa bereaksi sendiri tanpa ikut berekasi dalam metabolisme, karena adanya interaksi dengan fungsi umum sel. Interaksi zat kimia terhadap fungsi umum sel diantaranya dapat menyebabkan suatu efek narkose, dan gangguan terhadap penghataran impuls neurohumoral (Anonim. 2014).

Masuknya suatu zat ke dalam tubuh suatu organisme dapat menyebabkan sebuah proses biotransformasi, atau perubahan zat kimia dalam sistem biologis pada fungsi fisiologi tubuh organisme. Proses biotransformasi organisme ketika pewarna azo masuk ke dalam tubuhnya bisa jadi mengurangi tingkat berbahaya zat kimia tersebut, atau bahkan mungkin juga membuat xenobiotik bioaktif, dan menjadikannya lebih berbahaya dalam tubuh suatu organisme. Proses utama biotransformasi yang terjadi ketika pewarna azo masuk, diantaranya oksidasi, reduksi, hidrolisis dan konjugasi, yang terkatalisasi oleh enzim, dan dipengaruhi oleh bangun molekul serta kepekatan pencemar, sifat alamiah mikroorganisme, keadaan lingkungan, dan suhu (Connell, 2006, dalam Suhendra, E. dkk. 2013).

Penggunaan Pewarna Azo Terhadap Pembangunan Berkelanjutan

Tidak dipungkiri bahwa pewarna jenis Azo lazim dan banyak digunakan di beberapa produk yang sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan pewarna azo menjadi salah satu bagian dari faktor ekonomi untuk meningkatkan kualitas suatu produk dalam hal penampilan produk. Oleh karenanya pewarna azo umumnya tidak lepas dari kegatan produksi terutama di bidang tekstil dan produk yang menggunakan pewarna. Selama pengolahan, penggunaan, dan pemanfaatan pewarna azo dilakukan secara bijak dan tidak menyebabkan suatu dampak yang buruk, maka tidak menjadi sebuah masalah bagi masyarakat.

Adalah suatu tujuan dalam pembangunan nasional untuk mencapai kesejahteraan sosial dan ekonomi. Tetapi apalah artinya kesejahteraan tanpa lingkungan yang sehat demi mendukung kesehatan dan kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu, pembangunan yang berwawasan lingkungan menjadi penting bagi fondasi pembangunan.

Pewarna azo sebagaimana telah dikemukakan di atas, jelas menimbulkan suatu permasalahan bagi lingkungan terutama air, ketika tidak dikelola secara bijak. Air merupakan sumberdaya yang sangat penting bagi kehidupan seluruh makhluk hidup, dan oleh karena itu kualitas air perlu dijaga. Dalam M.Sudha. et.al (2014) dikemukakan berbagai mekanisme dan metode untuk menghilangkannya seperti dengan cara pekoagulasi, koagulasi-elektrooksidasi, adsorpsi, elektrolisis, fotolisis, dan ozonisasi. Secara biologi, pewarna azo dapat didegradasi dengan menggunakan agen hayati seperti mikroorganisme (M.Sudha. et.al. 2014), jamur (Dewi, S.R, & Lestari S. 2010), kapang (Fitriana, A & Kuswytasari. 2013). Namun cara-cara tersebut secara ekonomi dapat membebani suatu proses produksi dan oleh karena biayanya dapat dikatakan tidak sedikit serta waktu yang tidak sebentar. Hal ini bergantung kepada pelaku industri untuk dapat mengorbankan biaya demi terjaganya lingkungan dari limbah yang ia hasilkan.

Pengelolaan limbah terhadap kualitas air di Indonesia diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 dan mengacu pada Undang-undang no 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Namun dalam implementasinya, regulasi ini tidak berjalan sebagaimana mestinya. Diperlukan suatu tindakan tegas terhadap penerapan PP No.82 tahun 2001, karena air bersih merupakan hak bagi setiap warga negara Indonesia, dan merupakan unsur paling penting dalam kehidupan makhluk hidup. Sehingga, dalam hal ini, tidak bisa tawar-menawar untuk pengelolaan kualitas air agar air tetap terjaga dengan baik.

Penggunaan zat kimia perlu disikapi secara bijak, karena tidak hanya dapat mencemari lingkungan, namun juga dapat menjadi bencana ekologis bagi manusia. Pewarna digunakan untuk kebutuhan produksi dan tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari, namun di sisi lain ia juga menimbulkan suatu permasalahan yang harus ditanggulangi. Tersedianya suatu regulasi tidak efektif jika tanpa implementasi dalam realita kehidupan, maka sebelum terjadinya suatu masalah perlu adanya pencegahan terhadap apa yang tidak kita harapkan tersebut. Dalam hal ini, pencerdasan terhadap pelaku produksi atau pengguna zat pewarna juga harus diperhatikan. Kemudian pendampingan dan pengawasan juga dianggap penting dalam pelaksanaan suatu proses produksi, sehingga apa yang diharapkan dari sebuah regulasi demi kepentingan bersama yakni sebuah pembangunan berkelanjutan dapat terwujud.

Advertisements

5 comments on “DAMPAK PENCEMARAN PEWARNA TEKSTIL JENIS AZO TERHADAP BIOTA AIR DAN MEKANISME KEJADIANNYA SERTA DAMPAK PADA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

  1. Ais
    December 13, 2015

    Ini daftar pustakanya mana ya?

    Like

    • gema ikrar
      December 21, 2015

      Silahkan kirimkan alamat email anda mba ais. trims

      Like

      • mer
        April 11, 2017

        Halo mas,,, trima kasih tulisannya sangat membantu. Mau tanya, apakah pewarna alami tekstil juga bisa mencemarkan lingkungan? terima kasih

        Like

      • gema ikrar
        April 28, 2017

        Pewarna alami dalam kadar tertentu nampaknya ngga masalah, selama daya tampung lingkungannya masih memadai. Dan bisa jadi mencemari ketika melebihi kemampuan lingkungan untuk mereduksi zat pewarna nya. Mungkin begitu mas/mba

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Mari Mampir Dimari

Flickr Photos

Twitter Updates

Generasi Bagus Nusantara

Mengenal keanekaragaman flora, fauna, budaya serta isu lingkungan di bumi nusantara

Mittened Hands

Photography

Eccedentesiast's Diary

Learn-Love-Life

Azamalia

Hanya Kata-Kata

Tuesday Notes

Before all will be gone, i write. So that it will be unforgotten.

Allen's Zoo

Art, Illustration, Character Design

Hasan Lukman

Islamic learner enthusiast | environmentalk

FORESTER'S BLOG

JALAN - JALAN DI HUTAN

%d bloggers like this: